Siapa, “Roy Suryo”

KABAR SATU | Roy Suryo, Lengkapnya Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo (lahir 18 Juli 1968).

Ayahnya Kanjeng Pangeran Haryo Soejono PH. Keturunan Ningrat yang menyandang gelar Bangsawan Kerajaan pewaris Mataram, yakni Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.

Bukan keturunan dari silsilah sembarangan sebagaimana orang-orang hina katjung Aidit pemimpin politbiro PKI.

Ibundanya Raden Ayu Soeratmiyati Notonegoro juga demikian, Putri Ningrat generasi kedua hingga ketujuh dari raja/pemimpin yang terdekat (secara silsilah) yang pernah memerintah. Gelar yang juga disandang oleh semua kerajaan pewaris Mataram.

Bukan silsilah dari wanita-wanita pembunuh para Jenderal TNI AD seperti para Gerwani PKI itu.

Roy Suryo juga bukan tukang serut kayu yang berpura-pura lugu dan mengeksploitasi simpati publik lewat saluran comberan, ia menamatkan pendidikan dasar di SD Netral C Yogyakarta, lalu dilanjutkan di SMP Negeri 5 Yogyakarta, dan terakhir di SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Selepas remaja ia menyelesaikan kuliah pada Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Gadjah Mada, lalu mengajar di Jurusan Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia juga pernah tercatat sebagai pengajar tamu di Program D-3 Komunikasi UGM, mengajar fotografi untuk beberapa semester namun tidak berstatus sebagai dosen tetap UGM. Roy Suryo menamatkan pendidikan magister ilmu kesehatan masyarakat di FK UGM.

Pendidikan formalnya jelas dan padat, karenanya kerap dijadikan Ahli dalam berbagai perkara hukum yang berkaitan dengan telematika dan media. Bukan tong kosong yang bahkan bunyinya pun fals macam orang mabuk Kecubung.

Ketika Roy berbicara, sorot matanya berbinar memancarkan kecerdasan intelektualnya, suaranya lantang menarasikan pemikiran yang multi dimensional, bukan bolak-balik ratusan kali mengulang-ulang frasa Go green, Carbon Capture and Storage, Bonus Demografi dan Hilirisasi seperti orang yang mengekspresikan kedangkalan literasi, tolol, tapi ingin terlihat pinter.

Secara kasat mata, publik dengan mudah membedakan antara Roy Suryo dengan orang-orang dungu yang doyan “manggut-manggut” berlagak pintar.

Jadi jika hari ini Roy Suryo dituduh mengedit-edit dokumen yang ‘ditelitinya secara ilmiah’ adalah palsu, publik hanya butuh waktu 30 detik untuk spontan menyatakan,

“Roy Suryo sedang difitnah dan dikriminalisasi..!!”. (*)