JAKARTA, KABAR SATU – Penampilan siswi bernama Ocha dalam Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 memantik diskusi tentang keberanian berpikir kritis di ruang kelas. Aksinya mengoreksi keputusan juri dengan argumentasi yang santun dinilai membuka persoalan lama pendidikan Indonesia: mengapa banyak siswa enggan bersuara di forum resmi.
Fenomena itu mencuat saat video Ocha menyebar di media sosial. Ia dinilai menunjukkan sikap kritis yang tetap beradab, berbeda dengan pola diskusi daring yang kerap emosional.
Pengamat pendidikan menyebut keberanian semacam itu jarang muncul karena sistem pembelajaran masih cenderung membentuk siswa sebagai “penjawab soal” ketimbang “pemikir”. Data Programme for International Student Assessment (PISA) dari Organisation for Economic Co-operation and Development menunjukkan kemampuan literasi dan berpikir kritis pelajar Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain.
Praktisi pendidikan mencatat gejala itu terlihat dalam keseharian sekolah. Saat guru membuka ruang tanya, kelas sering hening. Namun setelah pelajaran selesai, siswa justru berdiskusi sendiri dan menyadari ada pertanyaan yang ingin disampaikan.
Budaya pendidikan yang menempatkan kesalahan sebagai hal memalukan disebut menjadi salah satu penyebabnya. Siswa tumbuh dengan kekhawatiran dianggap bodoh, ditertawakan, atau dinilai sok pintar. Akibatnya, keberanian intelektual sulit berkembang.
Para tokoh pendidikan menekankan pentingnya mengubah pola tersebut. Ki Hajar Dewantara melalui filosofi "Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani" menekankan peran guru sebagai pembimbing yang membangun kemandirian berpikir. Anies Baswedan dan Najelaa Shihab juga menyoroti perlunya pembelajaran yang mengutamakan proses berpikir kritis dan karakter siswa.
Konsep deep learning atau pembelajaran mendalam dinilai relevan untuk mendorong siswa aktif secara mental, bukan sekadar mengulang isi buku. Paulo Freire melalui _Pedagogy of the Oppressed_ mengkritik model pendidikan “gaya bank” yang hanya menempatkan siswa sebagai penerima hafalan.
Selain itu, beban administrasi guru yang menumpuk dinilai mengurangi waktu untuk membangun diskusi yang sehat di kelas. Pendidikan, menurut para ahli, perlu kembali menjadi ruang aman bagi siswa untuk mencoba, salah, berdiskusi, dan berbeda pendapat.
Kasus Ocha dianggap menjadi pengingat bahwa generasi muda Indonesia memiliki potensi besar dalam berekspresi. Tantangannya adalah mengarahkan keberanian itu agar disertai kedalaman berpikir dan adab.
“Indonesia membutuhkan lebih banyak anak muda yang berani, kritis, tetapi tetap santun,” tulis Regita KS dalam analisisnya.
*Penulis: Regita KS, pegiat dunia pendidikan
