KABAR SATU | OPINI -- Indonesia, negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, justru menjadi salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi. Banyak pejabat yang mengaku Muslim, namun tindakannya jauh dari nilai-nilai agama. Mereka menggunakan agama sebagai simbol, bukan sebagai pedoman hidup.
Peci di kepala, baju koko, dan status Islam di KTP menjadi alat pencitraan, bukan cerminan akhlak. Mereka lupa bahwa Islam mengajarkan kejujuran, keadilan, dan rasa takut kepada Allah.
Korupsi dianggap lumrah, bahkan diberi label "rezeki anak sholeh" atau "uang lelah". Padahal, dalam Islam, suap dan gratifikasi adalah dosa besar. Masyarakat juga tidak luput dari kesalahan, dengan menormalisasi tindakan korupsi dan menganggapnya sebagai hal biasa.
Pejabat korup bukan representasi Islam, melainkan korban kebodohan yang dibungkus identitas agama. Saatnya kita introspeksi dan mengembalikan agama ke hati, bukan hanya simbol. (*)
