Penulis: Erizali Jely Bandaro
KABAR SATU | OPINI -- Saya tersenyum ketika teman dari AS bertanya tentang pelajaran korupsi di Indonesia, tapi jadi ketawa ketika dia tanya apakah pelajarannya gratis. Ini menunjukkan bahwa humor jenis stand-up comedy memang tidak mudah dipahami di masyarakat dengan literasi rendah.
Stand-up comedy menertawakan realitas melalui ironi, bukan melalui kemarahan. Yang tertawa biasanya orang yang paham konteks, mampu menangkap makna ganda, dan tidak alergi kritik. Artinya, baik sang komedian maupun penonton sama-sama kaya literasi.
Sayangnya, di Indonesia, ironinya justru berbeda. Ironi dibaca sebagai hinaan, satire dianggap serangan personal, dan akibatnya bukan tawa yang muncul, melainkan ketersinggungan, bahkan laporan polisi.
Tak heran, hanya di Indonesia komedian bisa dilaporkan ke aparat karena materi lawakan. Ini bukan soal humor yang kelewat batas, melainkan soal ketidakmampuan membedakan kritik dan penghinaan. Ya, miskin literasi.
Padahal, satire justru tanda kedewasaan publik. Ia menuntut kemampuan berpikir abstrak dan keberanian menertawakan diri sendiri. Tanpa itu, humor berubah menjadi ancaman.
Ironinya, stand-up comedy paling konsisten justru datang dari mimbar kekuasaan. Setiap kali sebagian menteri berbicara—dengan gaya, diksi, dan logika yang terputus dari realitas—publik tertawa. Bedanya, itu bukan komedi yang disengaja. Memang mereka orang lucu. (*)
